Terdiam tubuh ini kaku memangku lengan
Berderap kencang anganku meraba tali kenangan
Masih… ya… masih Tuhan
Raga bersatu bersama akal berperang melawan hati dengan
penuh perjuangan
Sekilas semua omong kosong saja
Namun…
Mata elang penuh ratapnya mendekapku hingga mimpi
Merdu getaran pita suaranya memenjarakanku dalam puri
semiabadi
Menoleh sekejap padanya membuat suasana ini bertabrakan
remuk tak terkendali
Bagaimana bisa…
kesederhanaan itu merambah tepian sisa hidupku nan lalu?
Bagaimana mungkin…
diam sejuta maknanya menyimpul kekagumanku tanpa ujung?
Bagaimana ini…
Bahkan warna dan kisah yang ia kagumi pun aku tak tahu
Membuat aku berani-beraninya menyemai kekaguman lebih hingga
membatu
Tapi justru segala ini menuntunku terus menoleh dan menujumu
Meski terlarang…
Apakah iya…
beda yang selama ini kukesampingkan menjadikan palung hitam
putih berubah abu-abu
Waktu semula ku percaya kan menjawab kebimbangan ragawiku
Waktu menjadi obat terjitu sebagai harapan terakhir
penjelasmu
Menjadi berbalik waktu lima tahunlah yang menjelma
menyerupaimu dalam angan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar