Berlimpah intan dan
emas
Subur hijau rindang
untuk para teman
Itu…. Dulu…!!!
Kini punggung jalan
bertirai kaki lima
Kini tanah bertahta
sampah
Sungaiku jernih…?
Kini ikan berganti limbah
Negriku yang dulu
setegar karang
Yang dulu macan
Asia
SEKARANG…
Hanya dengan sekali
hirup ratusan pembunuh mengendap di organ
Sang biru putih
payungi bumi ini sakit
Wajahnya pucat
Marahnya adalah
lapar dan haus
Tangisnya adalah
hanyut dan tenggelam
Bahkan kadang ia
menangis di antara tangisan
Sebelum ’45 kami
ingin masa depan
Setelah ’45 kami
patut dikasihani
Karena serakah,
janji palsu, dan keangkuhan
Demi kami nereka
mati
Demi kami mereka
rela mengecap pahitnya nuklir dan peluru
Demi kami mereka
kehilangan kami
Dan demi kami para
pahlawan tetap tersenyum dalam malang
Dunia tua dan layu
bukan karena mantra
Segala menjulang
bukan karena kutukan
Namun karena Tuhan
marah pemberiannya digunakan dengan sungguh tak wajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar