LAGUKU

Jumat, 16 Maret 2012

Kau tabur sangka



Tanpa kau sadari
Kau tabur serbuk mesiu
Entah tak tau atau pura2 tak tau

Sebenarnya Aku yang pegang pemantik..
Jika ia Tanya apa aku sanggup?
Jika ia Tanya apa aku tega?
Ya aku sanggup dan tega…

Tapi tak akan ku lakukan
Karna bukan aku yg kan menyulutnya
Buka aku yang akan mengobarkan api
Bukan aku yang kan membakar mesiu di sekelilingmu

Mungkin orang ke sekian di antara kita…
Bisa saja dirimu sendiri, Yang menyulut mesiu itu
Bahkan bukan hanya dengan sekedar pemantik
Namun obor pesakitan yang jauh lebih membara
Jauh lebih panas dari api biru yang menjilat-jilat

Apa kau siap?
Sementara bahkan mesiu yang kau tabur itu bercabang
Mengepung sangka setiap insan yang kau sesatkan

Jangan ragu…
Karna aku menyayangimu meski kau tak tau
Karna aku membantumu meski kau tak perduli
Dan karna aku rela kau habis mengabu

Maka itulah yang kan membuatmu tau
Bahwa tak setiap mawar mampu kau patahkan durinya tanpa memetiknya dari tangkai

Rabu, 14 Maret 2012

Terendam lalai, luka, dan malu



Sekotak hati terpetak-petakkan
Berniat juang tuk torehkan senyum
Memimpikan mencium sekotak batu hitam besar di Makkah

Akal labil mengimbaskan kelalaian fatal

Semangat ku terkapar lemas
Jantung ini sakit tak tertandingi
Otak ku beku tak berguna
Suasana ini memancing kebrutalan

Salah apa?
Hingga aku terbenam luka hitam
Berlumur ego dan gengsi bedebah
Takdir macam apa ini?
Hingga merendahkan aku dalam malu yang sangat

Mau aku meronta hebat tanpa kendali
Melukis lambang debat di lapisan lengan ini

Tiada jua mengerti aku Tuhan
Baru saja aku hidup kembali
Hatiku belum juga rapatkan tiap petak salah lalu
Sudah pula Kau ambil beberapa petak lagi

Saat itu ku nanti tiada akhir
Saat setiap petak terkumpuk genap
Saat tiap petak ku rekatkan dengan lembut
Saat hati ini berbentuk hati dan tak lagi berkotak-kotak

Tuhan di Sisiku Slalu


 
Hari-hari menyesakkan…
Menyisakan gumpalan-gumpalan sesal

Di tengah riuh redam senyum para sahabat
Aku pun tersenyum sambil menggenggam racun kala

Sunahnya aku mengaku Tuhan…
Berat hati ini menanggung segala seorang diri
Tapi sungguh aku tak sanggup berbagi

Hingga ku mengerti dan sadari
Hanya pada-Mu aku bersandar seutuhnya Ya Allah
Ku rapatka 5 waktu sehari
Ku alunkan untaian ayat-Mu di saat matahari kembali ke peraduan

Kali ini benar-benar ku rasa berkah dari langkahku yang salah
Terimakasih Allah…..
Ijinkan aku perbaiki semu dengan usahaku sendiri
Restui tiap keputusan yang ku adili
Beri aku jalan dalam tiap  tapak pengembalian martabat

Karena aku mencintai-Mu….
Karena aku ingin jadi insan murni di bawah naungan lembah iman-Mu

Suatu saat nanti


Ekosistem baruu..
Dalam ekosistem baru aku berhsil beradaptasi
Merangkul kawan dan famyli baru
Meski tak sedarah tapi kami telah menyatu

Dan kini pertanyaanku…
Apa yang telah ku beri untuk-Mu?
Apa yang telah ku beri untuk Ayah-Ibu?
Apa yang telah ku beri untuka saudara2ku?
Apa yang telah ku beri untuk ku?
Apa yang telah ku beri untuk lingkunganku?

Pertanyaan berjajar rapi ini…
Mengecilkan aku
Mengingatka aku hanya sekeping embun beku tipis

Namun aku takkan jadi sepele
Raga ini menopang segala tekatku
Sebelum arwahku terbang menembus angan
Ku sampaikan malam mini pada semua yang menjadi saksi
Aku kan jawab semua pertanyaan
Dengan praktek di lapangan dengan nilai sempurna

Silahkan pandang aku sebelah mata
Silahkan rendahkan aku
Silahkan umpatkan aku

Akan ku jadikan kenyataan apa yang kalian ucap dan sumpahkan untukku…
Lihat apa kemampuanku yang bisa menebas batang gengsi kalian
Dan kemampuanku adalah setiap pandangan, umpatan dan sumpah bejad kalian..

LIHAT AKU



Apa aku pantas?
Apa mereka tak salah pilih?
Tuhan…. Apa ini jalanku?

Yang aku harapka semua ini adalah kegembiraan
Bukan beban yang amat mendalam
Kucoba pahami diriku
Diri yang betapa mudah semangat dan betapa mudah terpuruk

Membayangkan hati ini sakit begitu tercabik
Ketika mereka yang ku lihat berlari
Seentara….
AKU MERANGKAK…

Nestapanya saat satu persatu mereka dapat perhatian lebih
Sementara….
AKU TERABAIKAN

Tolong lihat aku…
Lihat aku …
Tolong hargai aku…
Hargai aku …

Baik… aku pahami di atas langit masih ada langit
Perjuanganku bukan apa-apa
Baik… ku tau di fikiran kalian
Mentalku jongkong dan semangatku duafa

Tapi apa iya kalian tak  memahami?
Aku ingin bisa
Aku datang
Aku berjuang
Aku korbankan semua
Aku prioritaskan kalian
Meskipun kalian anggap aku tak ada

Setelah sadari semua ini biarkan aku mendapat kelebihan sedikit-demi sedikit
Karna aku tak bisa instan

Musuh adalah guru terbaik….
Ya… itu  benar
Namun di mana martabat raga ini
Saat musuhku melihat sendiri kelemahanku
Aku inginkan emas…
Dan bisa saja emas seketika jadi batu cadas
Saat aku dibantai oleh musuh sekaligus guruku itu

Memang aku trauma di buang…
Hanya kalian tak tau jika sekali dibuang mungkin aku tak akan kembali
Tapi kalian lakukan itu
Semakin ku coba memahami bekas rasa ini yang dulu seakan membayangi

Jujur aku belum menyerah
Aku masih ingin mencoba…
Maka dari itu YA ALLAH beri hambamu ini kekuatan, kemudahan, dan keridhoanmu…

Menoleh Padanya yang Berlalu Sampai Kini


 
Terdiam tubuh ini kaku memangku lengan
Berderap kencang anganku meraba tali kenangan
Masih… ya… masih Tuhan
Raga bersatu bersama akal berperang melawan hati dengan penuh perjuangan
Sekilas semua omong kosong saja

Namun…
Mata elang penuh ratapnya mendekapku hingga mimpi
Merdu getaran pita suaranya memenjarakanku dalam puri semiabadi
Menoleh sekejap padanya membuat suasana ini bertabrakan remuk tak terkendali

Bagaimana bisa…
kesederhanaan itu merambah tepian sisa hidupku nan lalu?
Bagaimana mungkin…
diam sejuta maknanya menyimpul kekagumanku tanpa ujung?
Bagaimana ini…
Bahkan warna dan kisah yang ia kagumi pun aku tak tahu
Membuat aku berani-beraninya menyemai kekaguman lebih hingga membatu
Tapi justru segala ini menuntunku terus menoleh dan menujumu
Meski terlarang…

Apakah iya…
beda yang selama ini kukesampingkan menjadikan palung hitam putih berubah abu-abu
Waktu semula ku percaya kan menjawab kebimbangan ragawiku
Waktu menjadi obat terjitu sebagai harapan terakhir penjelasmu
Menjadi berbalik waktu lima tahunlah yang menjelma menyerupaimu dalam angan

Karang Negriku Kini Malang


 
Berlimpah intan dan emas
Subur hijau rindang untuk para teman
Itu…. Dulu…!!!

Kini punggung jalan bertirai kaki lima
Kini tanah bertahta sampah
Sungaiku jernih…? Kini ikan berganti limbah

Negriku yang dulu setegar karang
Yang dulu macan Asia
SEKARANG…
Hanya dengan sekali hirup ratusan pembunuh mengendap di organ

Sang biru putih payungi bumi ini sakit
Wajahnya pucat
Marahnya adalah lapar dan haus
Tangisnya adalah hanyut dan tenggelam
Bahkan kadang ia menangis di antara tangisan

Sebelum ’45 kami ingin masa depan
Setelah ’45 kami patut dikasihani
Karena serakah, janji palsu, dan keangkuhan

Demi kami nereka mati
Demi kami mereka rela mengecap pahitnya nuklir dan peluru
Demi kami mereka kehilangan kami
Dan demi kami para pahlawan tetap tersenyum dalam malang

Dunia tua dan layu bukan karena mantra
Segala menjulang bukan karena kutukan
Namun karena Tuhan marah pemberiannya digunakan dengan sungguh tak wajar.