LAGUKU

Senin, 25 Juni 2012

4 penjuru gadis mimpi



Hidup dalam dekap kerasnya dunia
Si gadis nan Mahir jurus pedang, periang dan Penggemar arak terbaik di masanya
Menjelajahi peristiwa dengan hampa…
Meyakini bahwa arak bukan untuk merusak dan membutakan akal
Tapi arak sebagai zat untuk dapat melihat masalalunya…

Dulu Segalanya normal tekendali
Hingga seorag pria sangar datang dalam takdir…
Penasaran gadis itu menatap matanya yang sendu seram
Hingga benci, dendam, amarah dan makian meraja…

Pria seram itu pernah membawa gadis itu pergi tanpa izin
Meronta dan bergejolaklah raga wanita nan rupawan ini…

Namun kenyataan terlalu berdebu
Keadaan memaksa sang gadis mengakui
Bahwa bukan hanya raganya yang diculik si pria
Tapi juga hati dan cintanya

Di tengah kejamnya masa lalu kelam sang pria
Gadis itu pun memendam kagum dan kasihnya
Gadis itu Dimanfaatkan, dijadikan umpan, dan dipaksa untuk bertarung
Demi nyawa yang bernafas, pertarungan dan dunia penjarah pun harus sang gadis lebur

Sang pria tak terlalu bengis karena meski kejam di sisi hatinya masih ada sudut kelembutan…
Ia jaga kesucian gadis tawanannya
Memberinya senyuman dan teka teki hidup dalam nirwana
Mengajarinya siasat perang dan memberikan pedang terbaiknya

Sampai suatu malam dipayungi redupnya bulan purnama
Kata menunggu dan pengorbanan pun terucap dalam perpisahan
Sang pria berjanji untuk kembali
Sang gadis pun pergi untuk nanti menagih janji

Namun sayang… hingga sang gadis menjadi komandan perang
Pria itu tak pernah kembali, ia pergi selamanya bersama musuh dan pedangnya
Namun gadis itu tetap meneropong jauh hidupnya sebagai ujung pedang pasukan
Walaupun sejatinya dalam setiap siasat perang dan teropongnya…
Selalu ada bayangan pria sangar berkuda yang menjadi semangat pertempurannya….

Percayalah cinta itu bukan hak paten untuk memiliki
Bangunlah dari mimpi bahwa cinta itu maha indah
Lihatlah betapa cinta dalam ketangguhan dan kerelaan akan membawa hidup yang lebih indah pada lebih banyak manusia…

2 komentar:

  1. Ah, sedih bacanya.
    btw, itu gadis berpedangnya apakah refleksi diri sang penulis? :)

    BalasHapus