Nggak usah peduliin hati yang udah mampus
Semangkok kerendahan hati melekat hangus
Segerombol hewan yang mengaku orang itu semakin haus
Haus akan darah hingga jadi kurus
Pikirnya jalan akhirat nanti juga akan mulus
Padahalkan mereka cuma tikus
Ada di tiap kota, aparat sampai kualahan untuk meringkus
Merusak sistem kenegaraan, saraf ekonomi, jalinan silaturahmi tak ubahnya virus
Tali romantika dan rantai hidup udah putus
Planet bumi nelangsa tak terurus
Si gendut langsung kurus
Si cerdas didepak dari kampus
Kalau dijumlah semua gara-gara fulus
LAGUKU
Sabtu, 25 Mei 2013
Nafas Dari Gerbang Pemusnah
Segar ingatan tusukan pedang di dada
Desah nafas mengkritik habis sisa nestapa
Berputar utuh, memandang belenggu kalbu
Nampak gerbang baja kokoh berlapis embun pagi
Pembelenggu itu berkata
"Ikhlaskan... maka kau akan lewati gerbang itu dengan mudah"
Termangu dalam tatap tak bergerak
Suara itu menyentak kuat degub jantung
Musnah hilang harapan dalam angan
Mengulang luas kenangan lama waktu untuk merelakan dalam doa terngiang suara alam
"Selalu ada yang menunggu di luar gerbang untuk bahagiamu"
Desah nafas mengkritik habis sisa nestapa
Berputar utuh, memandang belenggu kalbu
Nampak gerbang baja kokoh berlapis embun pagi
Pembelenggu itu berkata
"Ikhlaskan... maka kau akan lewati gerbang itu dengan mudah"
Termangu dalam tatap tak bergerak
Suara itu menyentak kuat degub jantung
Musnah hilang harapan dalam angan
Mengulang luas kenangan lama waktu untuk merelakan dalam doa terngiang suara alam
"Selalu ada yang menunggu di luar gerbang untuk bahagiamu"
Minggu, 03 Februari 2013
Jangan Lagi Tentang Perasaan
Pengakuan baru saja
kubuat di kedua sahabat luar bisaaku
Mereka marah,
menyesalkan, dan terkejut kala itu
Pengakuan aneh
muncul dari bibir pedasku
Pertama dalam
hidup aku mengakui aku pernah mengasihinya
Mungkin aku menyesal
setelah mengetahui bahwa kau pun dulu sebenarnya mengasihiku
Namun aku tak bisa,
sungguh tak bisa…
Karena ada orang
ketiga yang pun mencintaimu
Melewati batas
kesempurnaan dan kedewasaan aku jadikan satu kalian berdua
Aku sakit,
meringis tragis dalam hati
Dan semua pernah
ku rasa berlalu
Sebuah harapan bahwa
dengan manja, pesona, dan sisi lain seorang ia dapat membahagiakanmu
Sulit sungguh tak bisa
kulupakan kata2nya tentang aku yang terlanjur menggores hatiku
Aku faham dan aku
tau dia tak suka padaku
Tapi aku bisa apa
jika aku bersamamu maka ia akan tersakiti
Sementara aku
sadar betul ia tak sekuat aku
Sementara ia
mengaku kan lari dari semua tanggungkawab yang sudah kita percayakan bila kau
tak bersamanya
Pernah ku berfikir
jika membahagiakan ia saja kau tak mampu
Jika memegang
kendali amarahnya saja kau kualahan
Bisakah kau jadi
imamku?
Terlepas dari apakah
dengan saling memiliki kalian bahagia?
Baru ku sadari
bukan dari satu sisi penerimaan kita kan bahagia
Tapi dari timbal balik
umpan hati yang terpautkan
Aku sudah jera,
mati rasa melihat kalian dalam gandeng tangan dan kata cinta
Maka ku buat
kalian benci padaku dengan harapan aku bisa mebenci kalian
Lalu ku hapus
semua foto kau dan aku dalam 1 frame
Dan kutenggelamkan
kepedihan dalam tangis yang tak terealisasi
Aku hanya ingin
kau tau aku bukan gadis lemah
Aku hanya ingin
kau bahagia,
Jika kau bersamaku
mungkin kau dan dia menderita
Tapi jika kau
bersamanya mungkin kalian akan bahagia
Meski cintamu baru
tumbuh di pertengahan jalan
Paling tidak 2
bahagia 1 menderita lebih baik
Dari pada 1
bahagia dan 2 menderita
Semua rasa dan asa
yang ku tuangkan dalam kisah diatas pun melebur hangus
Ketika aku tahu ia
yang sudah pernah aku percayai untuk membahagiakanmu
Membagi dua
hatinya untuk orang lain
Membandingkanmu dengan
sosok idamannya yang lain
Menyesali apa yang
telah terjadi bersamamu
Terus mengumbar
wajah muram di hadapanmu
Aku harus apa?
Rasa ngilu di dada
ini dua kali lipat
Andai bisa ku katakana
padanya..
“cukup cukupkanlah…
kerelaan ini sudah buat aku terhempas jauh jangan lagi kau bakar musnah dengan
sebuah pengianatan hati”
Aku tak mau ia
menyakitimu
Jadi jangan bicara
tentang perasaan padaku
Karena kalian tak
tau nseperti apa rasa ini ketika melihat kalian
Jadi jangan sok
kuat di depanku karena hati ini sudah tak kenal lagi cemburu
Bahkan aku suap
hatiku sendiri demi tetap berdirinya sebuah perkumpulan sejati
Kamis, 24 Januari 2013
Kiasanku
Malam ini lampu
padam
Gelap, bertamar
setangkai lilin
Peket, sepekat
suasana hati
Aku bingung arah
dalam dada
Suara gonggongan
anjing seakan menggema
Nyanyian serangga
malam mengiringinya
Ini salah tapi itu
juga salah
Aku tak ingin
menjadi budak
Dan bahkan robot
di kastilku sendiri
Tersulutnya dua
sifat yang bertentangan
Kini terulang
kembali untuk sekian kali
Rasa takutku sudah
mati
Mati pun aku tak
takut lagi
Andai ku bias memilih
tanpa aturan
Ingin aku hidup
sendiri
Sudah jelas itu
tak mungkin
Meski aku terus
mencoba dan mencoba
Darah, tulang, dan
daging ini hanya jelmaan
Ku tak tahu apa
akal ini
Sudah jelas aku
bukan seutuhnya manusia
Minggu, 13 Januari 2013
Tegarku untukmu
Saat aku sampai...
Kau yang pertama ku cari dalam pandangan
Saat akan ku mulai sebuah cerita
Matamu yang ku tatap dan aku beri senyuman
Sebuah sekat memisahkan aku dan kamu
Namun sebuah sekat tak menghalangi hilangnya akalku
Aneh... entah akal atau hatiku yang berbicara salah...
Hingga suaramu, nafasmu, harum tubuhmu, siluet wajahmu...aku hafal
Bahkan derap langkahmu, lengkingan tawamu, redup matamu...aku nanti
Mungkin aku bodoh mengharapkanmu yang arogan
Bisa jadi aku hilang akal melukis wajahmu di buku kehidupan
Tapi aku faham bila hanya bisa menerka raga dan reaksimu dalam memory
Sebuah harapan kecil bila suatu hari nanti kau buka kitabku
Di mana....
Di sana sketsa wjahmu tergambarkan sesuai urutan
Di sana cerita tentangmu tertuliskan sesuai sketsa
Di sana sketsa dan ceritamu terkisahkan sesuai dengan waktu
Semua ini tak bisa ku mengerti
Aku mendekap dan memiliki mereka yang tak aku kasihi
Justru aku melepas dan berpaling dari mereka yang aku kasihi
Apa ini salahku Tuhan?
Mengasihi umat-Mu yang ternyata juga dikasihi oleh umat-Mu yang lain
Sementara aku mengenal ia, dan tak mau melukainya
Seakan kisah ini sudah menelanku untuk yang ke tiga kali
Terbayangkah seberapa sudah luka yang mengangah dalam lubuk hati ini?
Dan aku memilih menghindar dari kisah selanjutnya yang ku harapkan itu bersamamu
Aku seakan jera dan merinding jika harus disakiti atau menyakiti kembali
Karena sebuah komitmen selalu saja diakhiri dengan luka di salah satu hati
Kau yang pertama ku cari dalam pandangan
Saat akan ku mulai sebuah cerita
Matamu yang ku tatap dan aku beri senyuman
Sebuah sekat memisahkan aku dan kamu
Namun sebuah sekat tak menghalangi hilangnya akalku
Aneh... entah akal atau hatiku yang berbicara salah...
Hingga suaramu, nafasmu, harum tubuhmu, siluet wajahmu...aku hafal
Bahkan derap langkahmu, lengkingan tawamu, redup matamu...aku nanti
Mungkin aku bodoh mengharapkanmu yang arogan
Bisa jadi aku hilang akal melukis wajahmu di buku kehidupan
Tapi aku faham bila hanya bisa menerka raga dan reaksimu dalam memory
Sebuah harapan kecil bila suatu hari nanti kau buka kitabku
Di mana....
Di sana sketsa wjahmu tergambarkan sesuai urutan
Di sana cerita tentangmu tertuliskan sesuai sketsa
Di sana sketsa dan ceritamu terkisahkan sesuai dengan waktu
Semua ini tak bisa ku mengerti
Aku mendekap dan memiliki mereka yang tak aku kasihi
Justru aku melepas dan berpaling dari mereka yang aku kasihi
Apa ini salahku Tuhan?
Mengasihi umat-Mu yang ternyata juga dikasihi oleh umat-Mu yang lain
Sementara aku mengenal ia, dan tak mau melukainya
Seakan kisah ini sudah menelanku untuk yang ke tiga kali
Terbayangkah seberapa sudah luka yang mengangah dalam lubuk hati ini?
Dan aku memilih menghindar dari kisah selanjutnya yang ku harapkan itu bersamamu
Aku seakan jera dan merinding jika harus disakiti atau menyakiti kembali
Karena sebuah komitmen selalu saja diakhiri dengan luka di salah satu hati
Rabu, 09 Januari 2013
'Sebuah Kata'
'Sebuah Kata' yang tak asing terdengar
diagung-agungkan oleh sebagian umat Tuhan
Tanyaku apa 'Sebuah Kata' itu?
'Sebuah Kata' tidak membuat kita kenyang
'Sebuah Kata' bukanlah akar kehidupan
'Sebuah Kata' hanya sebuah kata tapi bukan rasa
Bagaimana bisa ada orang rela mati demi 'Sebuah Kata'?
itu bukan 'Sebuah Kata', itu sebuah lara yang tak kunjung terobati
Aku hidup bukan dan tidak karena 'Sebuah Kata'
Aku hidup karena Allah
Di mana akal sehat orang yang mendewakan 'Sebuah Kata'
Lupakah mereka berapa korban mati, gila, dan tersiksa karena 'Sebuah Kata'?
Mungkin 'Sebuah Kata' adalah sebuah soal yang belum ada kunci jawabannya...
diagung-agungkan oleh sebagian umat Tuhan
Tanyaku apa 'Sebuah Kata' itu?
'Sebuah Kata' tidak membuat kita kenyang
'Sebuah Kata' bukanlah akar kehidupan
'Sebuah Kata' hanya sebuah kata tapi bukan rasa
Bagaimana bisa ada orang rela mati demi 'Sebuah Kata'?
itu bukan 'Sebuah Kata', itu sebuah lara yang tak kunjung terobati
Aku hidup bukan dan tidak karena 'Sebuah Kata'
Aku hidup karena Allah
Di mana akal sehat orang yang mendewakan 'Sebuah Kata'
Lupakah mereka berapa korban mati, gila, dan tersiksa karena 'Sebuah Kata'?
Mungkin 'Sebuah Kata' adalah sebuah soal yang belum ada kunci jawabannya...
Selasa, 08 Januari 2013
Merak Berbulu Perak
Makhluk berwujud unggas dengan pesona kipas sang Maha Agung
Ia tak bisa bicara...!
Sulit baginya untuk menerka...!
Rahasia yang masih belum terungkap, sulit terungkap atau justru terpendam hingga ajal
Merak itu tertegun di bawah naungan pohon jati nan kokoh berselimutkan awan abu-abu
Paruhnya mengarah ke tanah...
Matanya berkedip sungguh pelan...!
Menyimpan kata dalam rangkaian kalimat
Menyematkan ingkar di tengah janji yang terhianati
Sang merak kini memahami
Ketika ekor peraknya mengembang, begitu banyak tatapan tak terlepas darinya
Saat ia lipat sayap dan dan ekor peraknya
Semua seakan terpejam lalu pergi
Si ular melata pergi darinya
Sang katak melompat berpaling darinya
Tuan singa bergeming acuh padanya
Kilau perak itu tak terlihat lagi sejak terlipat kala itu
Pemilik bulu perak merasa...
Tak terhitung hari lagi pohon jatinya akan tumbang, awan selimutnya akan jadi hujan
Ia takut sendirian dan kedinginan
Ia tak mau bulu peraknya rusak akan hujan dan angin kencang
Karena ia tau makhluk di dunia ini kejam
Ia tak bisa bicara...!
Sulit baginya untuk menerka...!
Rahasia yang masih belum terungkap, sulit terungkap atau justru terpendam hingga ajal
Merak itu tertegun di bawah naungan pohon jati nan kokoh berselimutkan awan abu-abu
Paruhnya mengarah ke tanah...
Matanya berkedip sungguh pelan...!
Menyimpan kata dalam rangkaian kalimat
Menyematkan ingkar di tengah janji yang terhianati
Sang merak kini memahami
Ketika ekor peraknya mengembang, begitu banyak tatapan tak terlepas darinya
Saat ia lipat sayap dan dan ekor peraknya
Semua seakan terpejam lalu pergi
Si ular melata pergi darinya
Sang katak melompat berpaling darinya
Tuan singa bergeming acuh padanya
Kilau perak itu tak terlihat lagi sejak terlipat kala itu
Pemilik bulu perak merasa...
Tak terhitung hari lagi pohon jatinya akan tumbang, awan selimutnya akan jadi hujan
Ia takut sendirian dan kedinginan
Ia tak mau bulu peraknya rusak akan hujan dan angin kencang
Karena ia tau makhluk di dunia ini kejam
Langganan:
Postingan (Atom)