Sejak tahun 2013 saya mengalami beberapa gejala yang tidak beres pada tubuh saya.
- Tubuh panas luar biasa dan selalu berkeringat meski tidak beraktifitas
- Meski mandi 3x sehari biang keringat yang sangat gatal tak mau hilang
- Sakit kepala sebelah ketika kelelahan
- Berat badan turun drastis 10kg tanpa diet sama sekali
- Jantung berdebar
- Emosi naik turun seperti rollercoaster
- Haid kurang teratur
- Kekuatan fisik menurun
- Mata belo, sekan bengkak
- Muncul benjolan pada leher
Awalnya semua saya anggap biasa saja sampai gejala terakhir muncul kemudian saya periksa ke puskesmas. Tanpa basa-basi dokter umum puskesmas langsung memperkirakan saya mengidap hipertiroid dan langsung merujuk saya ke spesialis penyakit dalam di rumah sakit terdekat, dokter sempat menenangkan saya dengan mengatakan bahwa hipertiroid masih bisa sembuh dengan terapi hormon dan minum obat teratur. Dengan kemajuan teknologi saya sudah mulai mengerti tentang hipertiroid. Di rumah sakit terdekat BPJS saya tidak bisa digunakan untuk cek darah dengan kata lain saya harus bayar sendiri. Jika ingin menggunakan BPJS saya harus ke rumah sakit rujukan sehingga oleh dokter penyakit dalam saya dirujuk ke rumah sakit rujukan tersebut.
Di rumah sakit ke dua saya bertemu dengan dokter yang sangat care dan pengertian. Cek darah pun dilakukak. Yah.... saya positif mengidap hipertiroid dengan hasil free T4 93 sementara normalnya 8-20. Saya ingat betul waktu itu adalah 9 Maret 2017. Mulai saat itu saya harus rutin setiap bulan cek darah ke rumah sakit dan minum obat setiap hari.
Hipertiroid adalah penyakit yang disebabkan oleh keturunan, mengakibatkan kadar hormon tiroid di tubuh melebihi batas normal. Hormon tiroid merupakan hormon yang mengatur metabolisme tubuh sehingga jika hormon tiroid berlebih akan menimbulkan berbagai macam gejala yang saya alami. Letak hormon ini berada di leher maka wajar jika mengakibatkan benjolan pada leher dalam bahasa medis penyakit ini juga disebut graves disease, sementara orang awam menyebutnya gondok. Pada dasarnya gondok adalah sebutan umum untuk penyakit yg menyebabkan pembengkakan pada leher, jika gondok lebih identik dengan gejala kekurangan yodium dan menyerang sekelompok masyarakat tertentu pada daerah yang sama. Sedangkan hipertiroid adalah murni disebabkan oleh keturunan, benjolan di leher pada hipertiroid tidak akan membesar jika segera ditangani dan diobati dengan cara yang benar tapi benjolan tersebut juga tidak akan mengecil. Benjolan ini juga tidak perlu dioprasi karena tidak berpengaruh pada organ di sekitarnya, jika ada yang menjalani oprasi bisa saja itu karena alasan estetika.
Hipertiroid menyerang kurang lebih 70% wanita dan 30 % laki-laki. Biasanya gejala hipertiroid akan muncul ketika usia penderita berada di angka remaja sampai dewasa.
Selain terapi hormon dengan minum obat secara teratur dalam jangka panjang hipertiroid bisa disembuhkan dengan radioaktif yang cenderung lebih cepat tapi dengan ketentuan dan resikonya tersendiri. Saya tetap lebih memilih dengan terapi hormon.
Sebelum gejala hipertiroid muncul pada diri saya, pada masa SD-SMP saya memang sering pingsan jika berada di tempat umum yang penat dan panas. Namun menjelang SMK hingga kuliah saya baik-baik saja bahkan saya sempat menjadi atlit bela diri pada tahun 2010-2013. Pada 2014 saya merasa kekuatan fisik saya menurun, saat latihan terakhir saya di tahun 2014 saya hampir pingsan pandangan sudah kabur, badan sudah dingin dan wajah sudah pucat.
Selama pengobatan ketika detak jantung saya masih cepat dan tiroid saya masih tinggi saya dilarang melakukan aktifitas fisik tinggi karena dapat berdampak buruk pada jantung. Tidak heran memang, karena banyak dokter yang salah mendiagnosa hipertiroid sebagai penyakit jantung, itu kenapa sangat dibutuhkan cek darah yang akurat. Pada saat hasil tes darah keluar hasilnya selalu berbeda bahkan tiroid saya pernah di bawah normal yang justru mengakibatkan tubuh saya selalu kedinginan.
Target kesembuhan saya adalah membuat hormon tiroid saya berada di angka normal tanpa bantuan obat dan berat badan berada di angka sebelum saya terkena hipertiroid. Maka dokter harus akurat dalam memberi takaran obat supaya pas dengan kadar tiroid saya.
Sekarang tanggal 25 April 2018, sudah setahun lebih saya menjalani pengobatan dan tiroid saya masih naik turun. Setidaknya tiroid saya tidak pernah lagi di atas 35. Posisi saya sekarang berada di masa kehamilan 4bulan. Kehamilan pada penderita hipertiroid merupakan kehamilan dengan resiko tinggi, maka obat tiroid saya diganti, dan tubuh saya harus rutin dipantau oleh dokter penyakit dalam dan dokter kehamilan setiap bulannya. Saya yakin pada diri saya dan saya percaya pada dokter saya, semua akan berjalan baik dengan kekuatan saya, doa saya, dukungan orang yang menyayangi saya, dan ketekunan saya. Pada bulan ke2-3 kehamilan saya mengalami morning sikcness yang luar biasa menguras tenaga dan emosi karna memang penderita hipertiroid akan berpeluang lebih besar mengalaminya. Alhamdulillah pada bulan ke 4 semua sudah lebih baik.
Apa yang saya tuliskan adalah berdasarkan pengalaman pribadi dan dari informasi dokter yang menangani saya. Saya hanya ingin berbagi kisah di sini. menunjukkan bahwa semua bisa menjadi lebih baik dengan ketekunan. Jangan malas kontrol, jangan malas minum obat, berjuaglah karena sungguh tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar