Kali ini saya akan menceritakan bagaimana saya hidup dengan uang yang tidak ditakar oleh atasan.
Sudah 5bulan saya hidup dengan uang hasil jerih payah saya sendiri ditambah dengan sebagian uang pemberian dari orang lain. Hehe....
Saya menulis kisah ini untuk mengingatkan betapa pentingnya berhemat ketika kita punya uang yang cukup(tidak harus banyak) untuk kemudian sisanya kita tabung.
Karena kita tidak tau apa tanggungjawab dan kebutuhan tidak terduga di masa depan.
Menurut saya, saya sudah bekerja keras, orang tidak perlu tahu seberapa keras perjuangan saya.
Tapi karena istilah "kerja keras" itu relatif tentu saja banyak orang yang menilai bahwa apa yang saya lakukan belum bisa dibilang kerja keras.
Dibalik kerja keras saya ada beberapa kisah yang menurut saya patut untuk saya kenang sampai kapan pun.
Diantaranya, bulan lalu saya mampu menjalani keseharian selama seminggu hanya dengan uang 8rb di dompet, memang hanya itu sisa uang saya. Bahkan saya kaget bagaimana bisa saya bertahan selama seminggu hanya dengan uang 8rb.
Lalu, 3 hari yang lalu saya ke bank untuk menambah saldo guna membayar asuransi(bukan uang saya), setelah saya masuk mengambil antrian, mengisi formulir dan duduk manis mengantri saya baru sadar bahwa di bank ada tukang parkir dan saya butuh uang untuk membayar parkir sejumlah minimal seribu sementara selain uang yang akan saya setorkan di dompet uang saya tinggal 500rupiah. Segera saya keluar dan mengecek adakah uang receh untuk menggenapi uang parkir rupanya saya masih cukup beruntung dengan menemukan uang seratus rupiah di bagasi motor maka untuk parkir uang saya masih kurang 400rupiah. Saya berpikir keras bagaimana cara untuk mendapatka 400rupiah, bahkan saya berencana meminta uang ke orang di sebelah saya tapi saya urungkan niat tersebut dan memilih untuk mengatakan sejujurnya kepada tukang parkir bahwa uang saya kurang. Dan Alhamdulillah saya masih lebih beruntung lagi ketika akan meninggalkan bank tukang parkir tidak meminta uang parkir kepada saya, mungkin karena saya datang ke bank sebelum bank buka dan sebelum tukang parkirnya datang.
Kemudian, dulu saya selalu memenuhi kebutuhan pribadi dengan barang2 yang original dan rutin berbelanja setiap bulan plus jajan. Tapi ternyata dengan uang mepet saya mampu menyiasati segalanya, saya tidak lagi belanja setiap bulan di swalayan. Saya memilih membeli suatu barang yang benar2 dibutuhkan di warung terdekat. Saya tidak pernah lagi jajan makanan kecil dan memilih berfikir di rumah sudah ada makanan yang bisa saya cemil(tiap hari di rumah saya ada ubi). Untuk parfum saya bisa pakai kisspray, untuk sampo saya bisa pakai sampo ibu saya, vitamin rambut saya coret dari daftar kebutuhan, kebutuhan lainnya saya Alhamdulillah masih bisa saya penuhi dari pendapatan saya yg datang dan pergi tak tetap waktunya.
Di luar pendapatan saya, saya tau ada orang lain yang peduli kepada saya dan selalu memberi saya uang. Namun ketika saya tahu mereka jauh lebih membutuhkan uang dari pada saya, saya lebih memilih menolak dan atau tidak meminta. Kecuali untuk kebutuhan penting seperti uang akomodasi untuk saya berobat.
Yang selalu saya pikirkan adalah coba dari dulu saya hidup hemat tanpa banyak tuntutan kebutuhan dan jajan tentunya. Kemudian uang tersebut saya tabung mungkin saya sekarang bisa membeli segala sesuatu yang harus saya cicil dengan uang saya sendiri.
Allah memang tidak pernah ingkar janji bahwa Ia akan mengabulkan doa hamba-Nya dan akan membayar setiap kebaikan dan kerja keras hamba-Nya. Kemarin saya mendapat rejeki yang tidak terduga dari asal yang tidak terduga pula. Saya merintis toko online di situs penjualan online yang sedang hits dan Alhamdulillah dari sana saya dapat secerca harapan untuk memperbaiki kondisi keuangan saya.
Sudah bukan jamannya lagi saya menyesali segala keputusan saya, meski terkadang saya rindu masa lalu tapi saya sadar diri bahwa hidup harus tetap berjalan dengan segala akal dan inovasi yang masih bisa saya rancang dan rencanakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar