Saat aku sampai...
Kau yang pertama ku cari dalam pandangan
Saat akan ku mulai sebuah cerita
Matamu yang ku tatap dan aku beri senyuman
Sebuah sekat memisahkan aku dan kamu
Namun sebuah sekat tak menghalangi hilangnya akalku
Aneh... entah akal atau hatiku yang berbicara salah...
Hingga suaramu, nafasmu, harum tubuhmu, siluet wajahmu...aku hafal
Bahkan derap langkahmu, lengkingan tawamu, redup matamu...aku nanti
Mungkin aku bodoh mengharapkanmu yang arogan
Bisa jadi aku hilang akal melukis wajahmu di buku kehidupan
Tapi aku faham bila hanya bisa menerka raga dan reaksimu dalam memory
Sebuah harapan kecil bila suatu hari nanti kau buka kitabku
Di mana....
Di sana sketsa wjahmu tergambarkan sesuai urutan
Di sana cerita tentangmu tertuliskan sesuai sketsa
Di sana sketsa dan ceritamu terkisahkan sesuai dengan waktu
Semua ini tak bisa ku mengerti
Aku mendekap dan memiliki mereka yang tak aku kasihi
Justru aku melepas dan berpaling dari mereka yang aku kasihi
Apa ini salahku Tuhan?
Mengasihi umat-Mu yang ternyata juga dikasihi oleh umat-Mu yang lain
Sementara aku mengenal ia, dan tak mau melukainya
Seakan kisah ini sudah menelanku untuk yang ke tiga kali
Terbayangkah seberapa sudah luka yang mengangah dalam lubuk hati ini?
Dan aku memilih menghindar dari kisah selanjutnya yang ku harapkan itu bersamamu
Aku seakan jera dan merinding jika harus disakiti atau menyakiti kembali
Karena sebuah komitmen selalu saja diakhiri dengan luka di salah satu hati