LAGUKU

Kamis, 24 Januari 2013

Kiasanku



Malam ini lampu padam
Gelap, bertamar setangkai lilin
Peket, sepekat suasana hati
Aku bingung arah dalam dada

Suara gonggongan anjing seakan menggema
Nyanyian serangga malam mengiringinya
Ini salah tapi itu juga salah
Aku tak ingin menjadi budak
Dan bahkan robot di kastilku sendiri

Tersulutnya dua sifat yang bertentangan
Kini terulang kembali untuk sekian kali
Rasa takutku sudah mati
Mati pun aku tak takut lagi

Andai ku bias memilih tanpa aturan
Ingin aku hidup sendiri
Sudah jelas itu tak mungkin
Meski aku terus mencoba dan mencoba

Darah, tulang, dan daging ini hanya jelmaan
Ku tak tahu apa akal ini
Sudah jelas aku bukan seutuhnya manusia

Minggu, 13 Januari 2013

Tegarku untukmu

Saat aku sampai...
Kau yang pertama ku cari dalam pandangan

Saat akan ku mulai sebuah cerita
Matamu yang ku tatap dan aku beri senyuman

Sebuah sekat memisahkan aku dan kamu
Namun sebuah sekat tak menghalangi hilangnya akalku
Aneh... entah akal atau hatiku yang berbicara salah...
Hingga suaramu, nafasmu, harum tubuhmu, siluet wajahmu...aku hafal
Bahkan derap langkahmu, lengkingan tawamu, redup matamu...aku nanti

Mungkin aku bodoh mengharapkanmu yang arogan
Bisa jadi aku hilang akal melukis wajahmu di buku kehidupan
Tapi aku faham bila hanya bisa menerka raga dan reaksimu dalam memory

Sebuah harapan kecil bila suatu hari nanti kau buka kitabku
Di mana....
Di sana sketsa wjahmu tergambarkan sesuai urutan
Di sana cerita tentangmu tertuliskan sesuai sketsa
Di sana sketsa dan ceritamu terkisahkan sesuai dengan waktu

Semua ini tak bisa ku mengerti
Aku mendekap dan memiliki mereka yang tak aku kasihi
 Justru aku melepas dan berpaling dari mereka yang aku kasihi
Apa ini salahku Tuhan?
Mengasihi umat-Mu yang ternyata juga dikasihi oleh umat-Mu yang lain

Sementara aku mengenal ia, dan tak mau melukainya
Seakan kisah ini sudah menelanku untuk yang ke tiga kali
Terbayangkah seberapa sudah luka yang mengangah dalam lubuk hati ini?

Dan aku memilih menghindar dari kisah selanjutnya yang ku harapkan itu bersamamu
Aku seakan jera dan merinding jika harus disakiti atau menyakiti kembali
Karena sebuah komitmen selalu saja diakhiri dengan luka di salah satu hati







Rabu, 09 Januari 2013

'Sebuah Kata'

'Sebuah Kata' yang tak asing terdengar
diagung-agungkan oleh sebagian umat Tuhan
Tanyaku apa 'Sebuah Kata' itu?

'Sebuah Kata' tidak membuat kita kenyang
'Sebuah Kata' bukanlah akar kehidupan
'Sebuah Kata' hanya sebuah kata tapi bukan rasa
Bagaimana bisa ada orang rela mati demi 'Sebuah Kata'?
itu bukan 'Sebuah Kata', itu sebuah lara yang tak kunjung terobati

Aku hidup bukan dan tidak karena 'Sebuah Kata'
Aku hidup karena Allah
Di mana akal sehat orang yang mendewakan 'Sebuah Kata'
Lupakah mereka berapa korban mati, gila, dan tersiksa karena 'Sebuah Kata'?

Mungkin 'Sebuah Kata' adalah sebuah soal yang belum ada kunci jawabannya...

Selasa, 08 Januari 2013

Merak Berbulu Perak

Makhluk berwujud unggas dengan pesona kipas sang Maha Agung
Ia tak bisa bicara...!
Sulit baginya untuk menerka...!

Rahasia yang masih belum terungkap, sulit terungkap atau justru terpendam hingga ajal
Merak itu tertegun di bawah naungan pohon jati nan kokoh berselimutkan awan abu-abu
Paruhnya mengarah ke tanah...
Matanya berkedip sungguh pelan...!
Menyimpan kata dalam rangkaian kalimat
Menyematkan ingkar di tengah janji yang terhianati

Sang merak kini memahami
Ketika ekor peraknya mengembang, begitu banyak tatapan tak terlepas darinya
Saat ia lipat sayap dan dan ekor peraknya
Semua seakan terpejam lalu pergi
Si ular melata pergi darinya
Sang katak melompat berpaling darinya
Tuan singa bergeming acuh padanya
Kilau perak itu tak terlihat lagi sejak terlipat kala itu

Pemilik bulu perak merasa...
Tak terhitung hari lagi pohon jatinya akan tumbang, awan selimutnya akan jadi hujan
Ia takut sendirian dan kedinginan
Ia tak mau bulu peraknya rusak akan hujan dan angin kencang
Karena ia tau makhluk di dunia ini kejam

Tombak Rencana

aku ingin pergi jauh menapak awan
berdialog dengan para dewa kematian
menjelma sebagai peri kecil yang bebas
bergumam pelan tanpa telinga

aku berharap bisa menulis naskah takdir
menghapus tiap gundukan sial
memecah asa yang bertautan
merobek halaman terakhir yang bertuliskan 'tamat'

irama angin yang bersaut-sautan
tersaman oleh petir atlas
kayu yang terpahat ukiran naga
ketangguhan terkubur pasir sesal

burung terbang melayang mandiri
abu jimat tersingkap singkat
duduk rapi, ruangan keramat
kepalan tangan kuat terjerat

Senin, 07 Januari 2013

Cerita Tembok Ceria



jika hari kemarin tidak kita lalui dengan berbeda maka hari ini dan esok kita tak akan punya cerita bukan?

seumur hidup saya hanya ingin membahagian....
itu knp saya pernah dibuang oleh kaum terbuang?
itu kenapa saya pernah memilih menghilang?

namun ketika hanya sebuah pengakuan dan pengindahan saja tak saya dapat,
saya harus mengencangkan sabuk kulit kencang2,
menutup mata rapat2,
dan menjadi sosok keras....
bahkan tiada arti jika kini saya harus jadi sosok terbuang dari kaum berlian

ini cerita dari hidupnya seonggok daging yang bernyawa menapaki setiap jalanan seorang diri, dan tetap ada kalanya harus ada kisah yang tak bisa dibagi...

bukan demi kesatuan dan kepentingan pribadi kalian saya perjuangkan, tapi karena kalian pantas untuk diperjuangkan...
namun bagaimana bisa saya memperjuangkan kalian sementara kalian tidak mau memperjuangkan nasib kalian sendiri...
Jadilah diri sendiri ikuti kata hati dan jangan membuat segalanya jadi abu2...

Titik Nadir Ragawi




3 titik nestapa, dalam rasa dan lokasi yang berbeda
 berusaha membenamkan luka dalam kesibukan
semakin teralihkan semakin tipis rasa pedih yang menghujam....

tiada kata sakit dan tiada alasan jika niat ini telah memilih dengan benar....
ketika hati terluka masih ada otak yang bisa berfikir,
ketika kaki sakit masih ada tangan yang bias berbuat,
ketika tangan sakit masih ada kaki yang bias berbuat,

begitu banyak faktor subtitusi dalam raga ini...
rasa Syukur tak terperi pada Tuhanku pencipta alam, terimakash ya ALLAH...
hari ini saya pulangkan semua...
anggap saja semua selongsong kepompong yang telah ditinggalkan oleh kupu-kupunya....


3 titik nestapa, dalam rasa dan lokasi yang berbeda
 berusaha membenamkan luka dalam kesibukan
semakin teralihkan semakin tipis rasa pedih yang menghujam....

tiada kata sakit dan tiada alasan jika niat ini telah memilih dengan benar....
ketika hati terluka masih ada otak yang bisa berfikir,
ketika kaki sakit masih ada tangan yang bias berbuat,
ketika tangan sakit masih ada kaki yang bias berbuat,

begitu banyak faktor subtitusi dalam raga ini...
rasa Syukur tak terperi pada Tuhanku pencipta alam, terimakash ya ALLAH...
hari ini saya pulangkan semua...
anggap saja semua selongsong kepompong yang telah ditinggalkan oleh kupu-kupunya....

Munafikkan Saja



setahun bersama…
 kau… kau ku tahtakan dalam singgasana persaudaraa
 tanpa aba-aba kau mencerminkan aku sebagai mesin pembanding…
percuma ku lukiskan ketulusanku di matamu
jika sebuah kanfas terlanjur sudah kau torehkan benci, amarah, dan buruk sangka…
ingin ku buka kelambu di balik rahasiamu yang ada di tanganku
ingin ku ungkapkan semua meski mereka membungkamku dengan 1000 pasti
kenyataanya ku harus tertunduk lemas ketika mereka takut kau terluka tanpa mereka perduli perasaanku

sekejap mata seakan semua telah terlewati…
 awalnya kuanggap semua usai tapi ternyata golokmu masih menusuku dari belakang
tatapan matamu padaku seperti musuh,
senyumu padaku ternyata kepalsuan,
segenap katamu dusta, dan taukah kau ini menyakitkan…?
 jangan tanya aku tau dari mana karena sudah banyak saksi, text, dan kenyataan yg terpaparkan....
dan aku mundur dari segala perang hati…