LAGUKU

Kamis, 12 April 2012

Aku Muak




Jenuh aku hanya mampu diam
Bosanku tak bertuan yang menjerat
Pedih nan melilit mengikat hatiku
Bingung berkeliaran di awan awan kecilku

Ku mohon…
Jujur katakan….agar ku tak hilang
Terbukalah…karna q takkan terluka
Tunjukan… maka kan selalu kan ku hargai
Semua lebih dan kurangmu

Sebab jujur hti ini yang tak ku mau
Memaksaku untuk mengakui
Bahwa rasa ini padamu

Aku muak dengan suasana rawa-rawa ini
Menusuk punggungku dengan akar bakaunya
Meski tak menyakitkan tapi membuat segala jadi beku
Semangat juang nan lelehkan kebekuan

Mudahkanlah


 
Dia milikmu seutuhnya Tuhan
Kendali nyawa dan hatinya seutuhnya di tanganMu
Datangkan ia untuku
Biarlah harum rempah tubuhnya nyata di sisiku

Ragam emosi dan tradisi
Menguras lengang hambaMu ini
Sudut mata meruncing angkuh
Maut sudah untukku

Mudahkanlah sisa nafas ini
Menjelajahi hatinya yang tak kan usang
Merengkuh mimpi dalam dada sesak ini
Bersyair dalam dua puri agung

Aku tak butuh “seandainya”
Aku tak ingin prasangkamu
Aku tak sudi kau kasihani

Lapisan Bayangan



Bayangan satu saja tak cukup…
Sorotan cahaya dari berbagai sudut
memmbuat semuanya cukup…

melodi hidup ini kini lembut menyenangkan terdenga pelan
irama nan serasi berpadu mesra dengan sunggingan bibir…

secangkir kopi pahit pun tak cukup mengurai kata maaf
rangka melodi menyapu debu yang bergemuruh
sebuah badan yang utuh mencerminkan rasa yang dalam

inilah kisah yang tak sempurna
inilah hati yang kosong tak berongga
dan inilah jiwa yang tersesat dalam dunia bahasa nan rumit
namun tetap bayangan harus tetap berlapis
demi kesempurnaan yang tertunda

Kapas berembun


Menjadi pemenang adalah kebanggaan
Namun apa kata dari bibirku kini?
Setelah menyadari…
Seorang pemenang masih kalah dengan yang pertama

Hati yang seputih kapas
Menyenangkanya bila buah kapas ini berisi mutiara
Dan betapa tegarnya jika buah kapas ini terbungkus cangkang kristal

Ringan mengenang masa-masa indah
Lembut meluluhkan hati setiap yang tahu
Dan mekar mengembang indah berdansa bersama angin

Tapi…
Ketika pagi datang…
Embun menghampiri…
Membuat kapas ringan, lembut dan mekar ini basah
Tertunduk penasaran… apalagi yang akan ada hari ini?

Ini kisah sebuah kapas yang bermimpi tinggi
Ingin menjadi yang pertama sekaligus pemenang

Lepaskan selamanya


 
3 tahun lalu kau berkata “lepaskanlah aku”
Dan aku menjawab “tidak”
3 tahun lalu dia berkata “lepaskanlah dia”
Dan aku menjawab “tidak”
2 tahun lalu kau berkata “aku akan melepaskanmu”
Dan aku menjawab “baiklah”

Jika bukan kau yang berkata pergi aku takkan pergi dari hatimu
Tapi kau telah mengatakannya dan aku pun pergi

Sekarang jangan sesali semuanya sayang
Karena hangus sudah semua…
Ya… malam itu seorang aku menangis
Dan apa kamu tahu, satu tangisan dari mataku adalah mantra
Mantra yang membentengiku dengan seribu yakin

Sejak tangisan itu pula aku berjanji bahwa aku tak akan menangis untuk apapun dan siapapun

 Hingg janji itu pun pupus… ketika aku harus tau dunia yang lebih nyata

Setelah kau tau dia hanya semu, setelah kau tercampakan
Kau datang padaku, sayang mantra itu telah menutup seribu maaf dan iba dariku untukmu

Rabu, 11 April 2012

bias kristal cinta



sempat aku menuai tatap hangat dirimu
ingin merengkuh aku dalam pundak nyamanmu
cintamu tak palsu dan tak terwujud, seiring hari

genggam erat bukti sayangmu padaku
demi rasa ini yang kian terbias semu
ucapan kata cinta bukan lagi tabu
karena aku setia mendengar kata cinta darimu

ragaku tak selalu milikmu
tapi...percayalah hati ini terikat di hatimu

aku percaya bisikan lembut mendayu bibirmu
bias kristal cahaya di langit....itu aku
karang kokok berbalut mutiara....itu kau



kian mendekat

beriringan melangkah, bergandengan melompat
senyuman mengembang menjadi tawa riang
sejarah hidup itu terukir rapi di sini....
di dada di hati dan di otak ini

sebaris kata maaf tak cukup dan sedret sesal tak penuh..
waktu itu kian dekat mersayap
saat kami kian dekat terpisah
bukan untuk selamanya…
untuk sehidupnya…