LAGUKU

Selasa, 24 Januari 2012

Semua Tentang Pahlawan Hidupku


Beliau…!
Beliau, yang bekerja keras dan bantung tulang
Untuk kami makan dan hidup bahkan sebelum kami lahir
Rela mati dan bermandikan peluh
Demi kebahagiaan kami setelah kami lahir
Ikhlas memaafkan, mendoakan, dan terluka
Demi keberhasilan kami

Sejak kami mengerti arti cobaan
Tak bosan buka mata sebelum jauh sebelum mentari merambat di ufuk timur
Memendam kecewa dan marah
Meski harus tidur sehari hanya 2 jam

Di bawah telapak mereka ada surge
 Di setiap restu mereka ada jalan
Di balik nasehat mereka ada rencana

Entah itu hutang atau anugerah?
Senyatanya kami menyayangi mereka
Mereka kebanggaan yang termewah dalam takdir kami
Guru dan energy bagi drama yang kami lakoni

Dengan segudang perak!
Segunung emas!
Sekarung berlian!
Bahkan nyawa kami pun!
tidak cukup dan sangat kurang
Untuk membalas budi baik sebaik kemuliaan yang termulia dari mereka

Kami menyesal pernah menyakiti hati mereka
Menangis saat terbawa  amarah
Membuat mereka berteriak
Melebarkan mata dan menghujat

Kemudian…merenung dan tersadar bahwa itu sungguh talk pantas

Kini hanya ucapan terima kasih
Hanya setitik bantuan
Yang bias kami persembahkan hanya untuk…
AYAH dan IBU tersayang….

Sekilas


Aku telah kalah… sejak lama

Terkurung dalam sekat takdir dan bawah sadar
Rasa takut yang tak bisa buat aku hidup biasa
Layaknya kupu yang terbang dan ikan yang berenang
Aku bukan kupu yang berenang atau ikan yang terbang

Monster bukanlah makhluk yang tersumpah
Malaikat masih belum pantas disemnag

Mungkin aku naga putih
Aku sanggup kobarkan api
Aku mampu melibas musuh dengan satu kibasan ekor
Hanya saja segalanya taku  padaku
Dan inilah naga putih yang berbalut sedih

Tertidur sekian lama di rongga bumi
Berkawan gelap dan bercumbu dengan kesenyapan
Aku ingin bebas dari hukuman ini
Berkeliaran di hutan tanpa diburu jahanam

Ada 2 pilihan yang sulit
Sembunyi untuk hidup tapi sendiri
Atau pergi keluar untuk dikenal tapi mati
Mati itu pasti dating
Dan tetu akan kusambit mayi itu
Tapi kapan dan di mana?

Seorang Ayah


Lambang kebijaksanaan tiada dua
Tangguh berdiri membentang ragu
Itu ayahku…

Sangkar baja bagi kerajaanku
Itu ayahku…

Raja sebagai pemeran utama
Itu ayahku

Kata ingin tak hanya jadi akan
Tapi pasti terkabul
Itu ayahku

Itulah ayahku
Tangan Tuhan pengabul harap…

Beda di Tengah Badai



Kami terlahir tidak sama
Dalam 1 lingkup bumi
Warna kulit dan budaya bersilang

Terbayang betapa permainya
Bila perbedaan yang bergejolak
Mampu ditepis dengan mudah
Kesadaran untuk bertahan hidup
Kerelaan untuk mengakui kekurangan

Tak ada salahnya saling menghargai
Meski melarat harta
Tanpa gedung dan mobil mewah
Orang masih bias berdiri dan berjalan tanpa tongkat

Di tengah badai diskriminasi
Harga diri yang tergulung oleh gengsi
Rasa kemanusiaan yang menjamur

Ku harap Indonesia tak lagi tinggal nama kelak


Penat


Aku ingin pergi ke tempat yang kauh dari sesak ini
Tempat yang …
lebih sepi dari kuburan
lebih henong dari sungai gangga
lebih luas dari alin-alun
dan lebih teduh dari hutan lindung
ingin ku buang semua penat dan sakit ini
berteriak keras tanpa ada yang tahu
mengamuk riang tanpa ada yang menghiraukan
tapi aku tak mau menangis bawang
karena air mata ini tak sudi aku titihkan sekarang